Minggu, 22 Desember 2013

Love You With No Reason


Title :
Love You With No Reason

Pemeran :
Park Jiyeon, Kim Jong In, Eunjung, Park Chanyeol, Sulli

...

Mungkin... cinta itu adalah dirimu, nyawaku itu adalah dirimu. Aku bukan pelangi yang memberikanmu warna apapun... aku hanya hitam dan putih. Tapi kau, bahkan tidak membutuhkan apapaun dari warna itu.
 ...
AUTHOR POV

Jiyeon berjalan perlahan mencoba menahan kegugupannya menuju Universitas Yoseon, Universitas yang kini membuatnya sangat takut hanya untuk sekedar bernafas. Kali ini, Jiyeon tidak lagi berjalan dengan angkuh, sudah meninggalkan rambut tertatanya yang kini dibiarkan tergerai. Tak ada tatapan sombong dan percaya diri lagi, kini diganti dengan tatapan cemas yang diciptakannya sendiri.

"Jiyeon-ah" teriak seorang yeoja yang kini berjalan cepat kearahnya "Eun..jung?" Jiyeon terbata "ya! apa kabarmu sekarang?" tanya yeoja itu tapi sama sekali tidak terlihat sedang menanyakan keadaan "gwenchana." kata Jiyeon masih tidak bisa melihat kedaan "cih!" Eunjung menatap sinis kearah Jiyeon "kau tahu... hari ini adalah hari yang ditunggu seluruh mahasiswa disini? bukan kelulusan... tapi, menderitanya kamu lebih daripada kita semua" kata Eunjung sinis yang membuat bulu kuduk Jiyeon berdiri "maksudmu?" Jiyeon kaget tapi masih belum bisa mencerna semuanya. Eunjung berjalan melewati Jiyeon tapi tidak lupa mendorongnya, membuat Jiyeon jatuh tapi tidak ada satupun mencoba menolongnya.

Dengan langkah pelan, Jiyeon berjalan meninggalkan tempatnya jatuh, kembali menuju kelas. Jiyeon, adalah mahasiswa Universitas Yoseon yang angkuh dan sombong... appanya adalah pengusaha kaya, sedangkan ummanya meninggal 1 tahun yang lalu akibat penyakit kanker yang dideritanya. Sekarang Jiyeon tinggal bersama pamannya di rumah yang lumayan kecil. Appa Jiyeon mengalam kebangkrutan akibat ditipu oleh rekan bisnisnya.

Jiyeon duduk di bangkunya, masih tetap tidak peduli dengan keadaan kelas yang sudah mulai memanas. Eunjung masuk kelas dan melewati Jiyeon sambil mendorong kursi Jiyeon sekencang-kencangnya, membuat Jiyeon terjatuh. Eunjung tersenyum licik tanpa sedikitpun berbalik menatap Jiyeon.

"Eunjung... jangan fikir aku akan diam saja dengan perlakuanmu seperti ini. Kau fikir kau siapa!" bentak Jiyeon mencoba berdiri dengan seluruh tenaga yang dia punya "memangnya kau fikir kau juga siapa? hah?" Eunjung berbalik berjalan mendekati Jiyeon "jangan harap Chanyeol oppa menolongmu!" bentak Eunjung, sedetik kemudian Chanyeol datang dan melihat seluruh kekagetan ini dengan tatapan bingung "ada apa ini?" tanya Chanyeol "oppa... Eunjung..." belum selesai Jiyeon berbicara Chanyeol memotong pembicaraannya "chagiya, aku lapar... ayo kita makan" Chanyeol berjalan melewati Jiyeon yang sudah tersenyum mengira itu untuk dirinya, ternyata Chanyeol menyambar tangan Eunjung dan menggenggam tangannya dan berjalan keluar. Jiyeon terbelalak sekali lagi...

Setelah appa, Eunjung, sekarang dia kehilangan Chanyeolnya?

JIYEON POV

Chagiya.. kau yang mengatakan sendiri... akulah relungmu itu, akulah nafasmu itu, akulah nyawamu itu... Tapi setelah melihat diriku terpuruk seperti ini... Kau meninggalkanku juga hanya karena Eunjung-sshi ? Kau tidak tahu seberapa sakitnya aku saat kau menggenggam tangan yeoja lain dengan mesra di hadapanku.... Terlebih dia adalah yeoja yang menginjak-injak harga diriku.

Aku terjatuh, kali ini benar-benar titik dimana aku sudah tidak bisa menahan tangisku. Bukan hanya tangisku, tapi juga kakiku cukup sakit karena tertindis oleh meja kursi yang dijatuhkan oleh Eunjung tadi. Aku terus menangis, tidak peduli dengan tatapan sinis orang-orang dalam kelas "mwoya? kenapa kalian menatapku seperti itu? apa kalian senang? tertawalah jika kalian senang..." teriakku di tengah-tengah tangisku, dan setelahnya aku berjalan keluar walau dengan kaki setengah pincang.

Aku terus berjalan sambil terus menghapus air mataku yang terus saja jatuh, sampai akhirnya aku menabrak seorang namja dan terjatuh, aku terus menangis dan kembali mencoba bangun, tapi kurasa kakiku sudah sangat sakit "Ya! ada apa denganmu kaki, kenapa tidak bisa berdiri!" bentakku pada diriku dan kembali mencoba berdiri, tapi tidak bisa, terlihat darah segar sudah mengucur deras sedari tadi di kakiku "gwenchana?" kata namja itu dan membantuku untuk berdiri "jangan memarahi tubuhmu seperti itu" kata namja itu lagi, aku hanya mengangguk, tidak bisa berkata apapun karena sibuk menutup mulutku agar tangisku tidak terlalu kencang.

"mianhae.. tapi bisakah aku menggendongmu menuju UKS?" kata namja itu lagi, sekali lagi aku mengangguk. Toh tidak ada yang cemburu lagi, dan tidak ada yang bisa kulakukan lagi dengan kaki yang tidak bisa berjalan.

...
 "gwenchana?" kata namja itu lagi setelah lukaku diperban olehnya, aku hanya mengangguk sambil menatap nalar kakiku "kakimu akan sembuh, tenang saja" kata namja itu lagi "namanu?" tanyaku akhirnya "kau tidak kenal siapa aku?" tanya namja itu kecewa, aku mencoba mengingat-ingat wajahnya, tapi sayangnya tidak berhasil, akupun menggeleng pelan.

"Sudah kuduga" katanya dan ikut duduk disebelahku "apa aku pernah menyakitimu? mianhae.. jeongmal mianhae" kataku sambil menunduk "aniyo.. hanya saja.. sangat kecewa aku tiap hari berada di kelas sama denganmu tapi kau sama sekali tidak pernah melihatku" kata namja itu lagi, aku kembali menatap wajahnya, dan muncullah sekelebat itu "ka.. kai?? kim jong in?" tanyaku mencoba mengingat namanya yang samar-samar diingatanku, dia akhirnya tersenyum dan mengangguk kencang "gotchaa" katanya, aku juga ikut mengangguk pelan.

"aku mendengar banyak berita tentangmu hari ini" kata Jong In lagi, aku tersenyum kecut mencoba untuk tidak terlihat sakit hati "aniyo.. " kataku "aku akan masuk kelas, sepertinya pelajaran akan segera dimulai" aku berjalan mendahului kai. Kai diam tidak tahu harus ikut denganku atau nanti saja. Tapi aku tidak peduli.

...
KAI POV

Yeoja itu... mungkin dia satu-satunya yeoja yang tidak mengenal namaku. Kufikir dia langsung tau namaku dan terkesima akan siapa yang menggendongnya tadi... Tapi ternyata, mengucapkan terimakasihpun dia tidak.

Dan... akhirnya kuputuskan untuk mengekori yeoja itu menuju kelas, walau terlihat seperti membuntuti sih /? Jiyeon masuk kelas dengan langkah tegaknya yang biasa, langkah angkuh dia tapi kini dengan wajah yang terlihat lelah "Jiyeon-ah" pekik Sulli dan menarik Jiyeon duduk di sebelahnya "aku mendengarnyaa! chukkaaeee!" teriak Sulli.

JIYEON POV

Chukkae? mwo? apa Sulli juga mulai memusuhiku. Bahkan dengan hariku yang terpuruk seperti ini... dia juga menjauhiku dan mencibirku. Tapi kucoba untuk tenang "chukkae?" tanyaku pada Sulli "omo~ omo~... tadi kau digendong sama Kai kan? aishii... seandainya saja aku memotretnya tadi" Sulli membayangkan adegan yang tadi dan hampir menangis "mwo? jadi kau mengucapkan selamat untuk yang itu?" aku kaget dan mendengus kesal "wae? memangnya apa lagi yang harus ku ucapkan selamat selain itu? terbongkarnya keburukan chanyeol? apa? apa?" Sulli mengerucutkan bibirnya, aku kembali mendengus kesal "soal chanyeol... tidak bisakah kau tidak membahasnya?" tanyaku, Sulli mengangguk mengerti "dia orang jahat! menyesallah pernah pacaran dengan orang jahat! bukan menyesali dirimu sendiri yang membuat dia sebegitu jahatnya!" kata Sulli mengerti apa yang hatiku sekarang fikirkan "sudahlah" aku mendengus lagi.

Saat ini hanya Sulli sahabatku yang kupunya. Mereka menjauhi selangkah demi selangkah... lalu tak tersisah, malah berbalik menyerangku. Aku menunduk mengingat kemalanganku hari ini, dan akan terus kembali sampai hari kelulusan tiba.

Seseorang duduk disebelahku dengan tatapan lurus-lurus. Aku berbalik melihatnya, ternyata Kai. Orang yang tadi menolongku.

Sabtu, 19 Oktober 2013

CRAZY STALKER

Pemeran :
D.O Exo K & Park Jiyeon
All Member EXO & Hyun

Cintaku memilihmu, bersamaku dalam hening dan bersamaku dalam sunyi. Cintaku memilihmu, menggapaimu dalam diam dan menggapaimu dalam kekalahan.
            “Ya! Kumohon… Menjauhlah!” teriak Suho kencang-kencang sambil membantu bodyguard melindungi member lainnya, tapi malah dia yang sekarang dijadikan objek keisengan fans “Jebal! Jebal!” teriak Suho dengan wajah yang lelah, tiba-tiba ada yang menerobos dari kerumunan fans dan menarik lengan D.O “oppa… saranghaeyo! Jadilah milikku” katanya, kini sambil mencoba memeluk kyungsoo, Kyungsoo gelagapan dan berlindung dibalik punggung Kai “Wae?” Kai berbalik melihat Kyungsoo “dia… sasaeng! Kumohon, bantulah aku!” Kyungsoo meringkuk ketakutan, dia trauma dengan sasaeng setelah matanya lebam karena dilempari kamera dslr oleh salah satu sasaeng “YA! Kau fansnya kan? Kenapa seperti itu? Kau support lah dia! Tapi jangan membuatnya terancam!” bentak yeoja yang kini menarik kuat-kuat lengan sasaeng itu “apa pedulimu!” bentak sasaeng itu, semua member EXO diam, benar-benar terpaku dengan keributan itu “Kau!” yeoja itu mengepalkan kedua tangannya dengan menatap sasaeng itu tajam-tajam “kalau kau menghalangi jalannya, akan kubunuh kau!” bentak yeoja itu dengan lancang, yang membuat sasaeng itu berlari menjauh ketakutan “jika ada yang berani macam-macam dengan Kyungsoo atau member lain, aku akan menghajarnya!” bentak yeoja itu yang menggema diseluruh ruangan. Saat itulah, yeoja itu memberikan kode agar semua member mengambil kesempatan untuk berlari menjauh.
            Setelah member pergi, seluruh fans yang tadi dibentaknya berjalan mendekat yeoja itu “YA! BERANINYA KAU!” kata sasaeng tadi “mwo?” yeoja itu berdiri angkuh “KENAPA KAU MENGHALANGI JALANKU! SELANGKAH LAGI! AKU BISA MEMELUK OPPA!!!” teriak sasaeng itu menggelegar “na! PARK JIYEON! Aku juga fans berat kyungsoo! Tapi aku tidak akan membiarkan siapapun melukainya! ARRA!” Jiyeon menatap bengis sasaeng itu, sasaeng itu mundur perlahan dan setelahnya berlari diikuti oleh fans-fans yang lain. Jiyeon menatap kepergian dengan sorot kebencian “sampah-sampah tak berguna! Apa itu masuk akal? Melukai orang yang dicintai! Ya! Dia hidup di zaman apa!”
            Exo Dorm!
            “Kyungsoo” Kai masuk didalam kamar sambil duduk di sebelah kyungsoo, Kyungsoo berbalik “eo?” Kai bertepuk tangan “baru kali ini aku melihat seorang fans yang benar-benar membela kita! Dan itu karenamu! Wuah… kau DAEBAK!” Kai mengangkat kedua ibu jarinya sambil tersenyum kearah Kyungsoo “jangan terlalu berharap! Mungkin saja ini tahap dia untuk melakukan hal yang lebih parah dari sasaeng tadi” Kyungsoo acuh menanggapinya dan setelahnya sibuk bermain game “jinja!” Kai memutar bola matanya tidak percaya dengan apa yang didengarnya “dia yeoja hebat! Bahkan dia bisa membuat suasana riuh dan menjengkelkan menjadi tenang. Kau harus berbangga diri mempunya fans sepertinya” Kai melanjutkan “aish! Terserah… aku ingin tidur. Kembalilah ketempat tidurmu” Kyungsoo menarik selimutnya dan tidur membelakangi Kai. Kai hanya menatap punggung Kyungsoo dan setelahnya berdiri menuju tempat tidurnya “good nite” bisik Kai “eo” balas Kyungsoo malas.
            “Besok kita ada konser” kata Kai “memangnya ada hari libur untuk kita?” balas Kyungsoo “apa yeoja itu akan melindungimu lagi dari sasaeng?” tanya Kai “Ya! Berhentilah mengatakannya. Kalau kau menyukai yeoja itu katakanlah… Jangan menutupinya dengan menjodoh-jodohkannya denganku” Kyungsoo berbalik kearah Kai “ani! Hanya saja tadi di ruang latihan, yang kami bicarakan hanya yeoja itu. Jadi kalau kau bilang aku menyukainya… kau salah besar! Kami hanya kagum. Ada fans Kyungsoo seperti itu. Kufikir fans mu hanya yeoja-yeoja centil yang menyukai gayamu yang kawaii” kata Kai panjang lebar “mwo? KAWAII? Maksudmu kyeopta?? Aish, Jinja…” Kyungso memijit lehernya mulai bosan “yang kawaii itu TAO!” Kyungsoo berbalik cepat dan memperbaiki selimutnya “sudahlah… kau tidurlah cepat. Aku juga akan tidur cepat. Besok aku sudah janji pada Chen untuk memasakkan kimchi untuknya” kata Kyungsoo, setelahnya tak ada respon dari Kai. Kyungsoo berbalik pelan, ternyata Kai sudah tertidur. “Aish Jinja! Kai… tidak bisakah dia tidak menjengkelkan seperti ini? Bahkan godaan paling mutlak untuknya adalah bantal bukan seorang yeoja!”
            KEMBALI! Suasana seperti kemarin… kembali terjadi! Kyungsoo kini berlindung dibalik punggung Kris agar tidak terlalu terlihat oleh fans “Kyungsoo oppa! Lihat kesini! Apakah aku terlihat cantik? SARANGHAEYOO!!” kata yeoja yang bergaya ala girls day minah “Kyungsoo oppa!” teriak fans dan kejadian itu kembali terjadi, seorang fans kembali dapat menerobos dari kerumunan dan mendorong Kyungsoo sampai terjatuh, yeoja itu kini menahan Kyungsoo dengan kuat dan benar-benar ingin melakukan hal yang aneh, seluruh member berbalik dan menahan yeoja itu, tapi sayangnya tidak bisa karena terlalu banyak kerumunan “KAI!!” teriak Kyungsoo meminta pertolongan, Kai dengan segenap tenaga keluar dari kerumunan dan mencari Kyungsoo “ya! Kenapa tenagamu kuat sekali” Kyungsoo berusaha berdiri tapi yeoja itu menahannya “tenang oppa! Aku ban hitam” yeoja itu mengedipkan satu matanya. Kyungsoo membelalak, ban hitam? Dia bercanda? Jadi dia jago karate?, Kyungsoo berusaha berdiri tapi tetap ditahannya “YA! APA YANG KAU LAKUKAN?” Teriak park jiyeon dan mendorong yeoja itu “gwenchana?” Jiyeon membantu Kyungsoo berdiri dan membersihkan kotoran di punggungnya “dasar pengacau!” bentak yeoja itu “KAI! KAI!” teriak Jiyeon, Kai berlari dan kini berada tepat didepan Jiyeon “sepertinya Kyungsoo terkilir pas jatuh, makanya dia tidak bisa melawan dengan kuat. Kau bantu dia! Yeoja ini gila, dia lawan yang tangguh untuk ban hitam” kata Jiyeon sambil berbalik menatap Kyungsoo “kau tahu itu?” Kyungsoo membelalak kaget “tentu saja. Dia lawanku saat mengambil ban hitam dulu. Kajja!” Jiyeon melindungi Kyungsoo dan Kai dari fans yang usil dan setelahnya membiarkan mereka berjalan berdua setelah bodyguard mendekat “ya! Apa kau sebenarnya? Fikiranmu terbuat dari apa! Kupatahkan tulangmu jika kau tidak pergi dari sini sekarang juga!” bentak Jiyeon “Ya! Jiyeon-ah! Kau fikir kau siapa berani mengusirku? Aku bukan yeoja lemah yang kemarin itu!” bentak yeoja itu “kau ingat tanganmu yang patah saat itu? Butuh berapa bulan untuk menyembuhkannya yah? Apa kakimu sekarang yang ingin dipatahkan!” bentak Jiyeon menggelegar. Dan setelahnya yeoja itu tersentak dan berlari sekencang-kencangnya
Exo Dorm!
            Kini member Exo K berkumpul di ruang dance setelah tadi melepas kepergian member Exo M menuju China “ku akui… dia daebak!” kata Suho sambil melirik kearah Kyungsoo “aku benci dia!” Kyungsoo memalingkan wajah “benci katamu? Jaman sekarang. Mana ada yeoja sesempurna itu? Sudah cantik, pintar karate, dan bisa melindungi kita” Baekhyun menatap tak percaya pada Kyungsoo “oleh karena itu! Kau fikir aku senang diperlakukan bahwa aku tidak bisa melindungi diriku sendiri?” Kyungsoo menatap Baekhyun tajam “memang jelas kan? Diantara kita semua, kau yang paling pendek, kau juga yang paling lemah. Satu-satunya kekuatanmu adalah wajahmu yang lucu yang kadang menyeramkan” balas Baekhyun lagi “Apa katamu?” Kyungsoo berdiri siap-siap ingin memukuli Baekhyun “ya! Ya! Apa ini? Jangan bertengkar seperti ini!” teriak Suho meleraikan mereka “kau bahkan tidak pernah pergi supermarket! Selalu meminta bantuan Kai untuk membeli camilan. Apa itu artinya? Padahal kau tahu sendiri kan. Kai itu fansnya sangat banyak, dia terancam dimana saja” ucap Baekhyun “oke! Akan kubuktikan! Aku akan pergi ke supermarket. Aku haus! Ingin minum minuman yang bisa membuat aku tidak kehausan dan membuat otakku yang terbakar ini menjadi dingin!” Kyungsoo menyambar jaketnya dan berjalan cepat menuju supermarket. Setelahnya Baekhyun cekikikan “liat wajahnya tadi! Lucu sekali!” Baekhyun menari-nari tidak jelas membuat seluruh member ingin muntah melihatnya “jangan menari-menari aneh seperti itu hyung.... itu membuatku ingat weekly idol kita” Sehun menatap Baekhyun malas, yang membuat Baekhyun berhenti menari “DIAM KAU!” bentak Baekhyun yang membuat Sehun cekikian.
            Kini Kyungsoo berjalan cepat menuju supermarket. Dan tololnya, ada sekelompok yeoja mengenalinya “oppa!!” teriak yeoja-yeoja itu dan berlari mengejar Kyungsoo. Kyungsoo yang menyadari akan ada bahaya kini berlari secepat mungkin menuju supermarket untuk bersembunyi, saat masuk dia terlalu terburu-buru dan BRAK! Dia menabrak seseorang “maaf!” Kyungsoo menunduk “aniyeo!” kata yeoja itu dan melihat Kyungsoo gelagapan “kyungsoo?” kata yeoja itu, Kyungsoo melihat yeoja itu yang ternyata Jiyeon “kau?” Kyungsoo merutuki dirinya “kau dikejar lagi?” Tanya Jiyeon, Kyungsoo mengangguk malas “ini! Pakai topiku… setidaknya mereka tidak terlalu mengenalimu” kata Jiyeon dan menarik Kyungsoo berjalan keluar supermarket.
            Kyungsoo sesekali berbalik menatap Jiyeon yang celingak-celinguk memastikan keadaan “kau mau kemana?” Tanya Jiyeon, Kyungsoo gelagapan “eo? Terserah” Kyungsoo menjawab acuh menyembunyikan kegugupannya “di taman saja, disana dekat dengan supermarket. Tunggu keadannya bagus dulu” kata Jiyeon dan berjalan mendahului Kyungsoo.
            Sesampainya di taman, Jiyeon duduk dikursi panjang disebelah Kyungsoo “kenapa kau selalu ada membantuku?” Tanya Kyungsoo “sebenarnya aku sudah mengikutimu dari lama. Sudah banyak yang ingin memegangmu disembarang tempat. Tapi untung kekuatan yeoja-yeoja itu tidak terlalu menyulitkanku” kata Jiyeon “maaf… saat kau dilempari kamera dslr itu. Aku sedang ada masalah. Jadi aku tidak bisa melindungimu” kata Jiyeon sambil menunduk “kau tahu? Sebenarnya sudah sangat banyak kelakuan mereka yang untunglah tidak sampai terjadi padamu. Mengirimmu kado terror. Melemparimu tepung. Menciummu. Memelukmu. Aish… itu membuatku hampir gila! Tapi untunglah… selalu bisa kutangani. Kecuali saat waktu mereka menerobos masuk” Jiyeon berkata panjang lebar “pantas saja tidak ada yang mengangguku seperti Kai dan Sehun. Ternyata kau melindungiku seperti itu?” Kyungsoo berbalik menatap Jiyeon. Jiyeon hanya menatap bintang tanpa ekspresi apapun “kau tahu…” Jiyeon menatap bulan lekat-lekat “kenapa aku menyukaimu? Menjadi fansmu?” Tanya Jiyeon sambil melirik Kyungsoo, Kyungsoo menggeleng “itu karena kau terlihat tidak peduli tapi sangat peduli...” kata Jiyeon kini menatap Kyungsoo tepat dimanik matanya “suara Baekhyun, Chen, dan Xiumin lebih tinggi oktafnya dibandingmu. Dance Kai dan Lay lebih baik darimu. Luhan, Sehun, Tao lebih charming darimu. Tapi… entah. Kau seakan lebih baik dari mereka” Jawab Jiyeon “kau bilang mottomu ‘be number one’ kan?” Tanya Jiyeon, Kyungsoo masih diam “itu adalah mottoku juga” jawab Jiyeon “aku selalu ingin lebih pintar dari teman-teman sekolahku. Ingin lebih hebat dari pada teman-teman karateku. Dan ingin lebih diberbagai bidang” jawab Jiyeon “tapi aku tidak bisa lebih baik dari umma” Jiyeon tersenyum kecil “dan… karenamu. Aku sadar” Jiyeon menarik napas sedalam dalamnya “karena kau selalu ingin menjadi yang pertama. Aku akan membantumu untuk itu. Dan caranya seperti ini. Menjadi fans mu, dan mengawasi fans-fans yang mencoba mencelakaimu. Ini agar kau… Tidak banyak memikirkan yang negative terhadap fansmu dan berimbas pada performmu” jawab Jiyeon.
            Kyungsoo menatap Jiyeon lekat-lekat dan kembali memalingkan wajahnya “ku fikir kau orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Tapi ternyata… Kau adalah yeoja yang tulus” kata Kyungsoo sambil tersenyum kearah Jiyeon “kau… Jiyeon? Namamu Jiyeon kan?” Tanya Kyungsoo “Park Jiyeon” Jiyeon membetulkan. Kyungsoo mengangguk “aku harus pergi. Terimakasih Karena kau tlah menjadi fansku. Terimakasih juga kau menolongku lagi hari ini” Kyugsoo berdiri dan tersenyum kearah Jiyeon “Annyeong!” pamit Kyungsoo dan berjalan menjauh. Jiyeon hanya terpaku disitu. Sebenarnya jantungnya sudah berdetak tidak karuan dari tadi. “ya! Jantung! Ada apa denganmu? Kau ingin ku pensiunkan? Lalu jantung siapa yang akan kupakai jika kau berlaku tidak normal seperti ini! Ng… Ottokhae!” bisik Jiyeon pada dirinya sendiri dan menunduk malu.
            “Aku pulang!” teriak Kyungsoo dan berjalan di ruang latihan “YA! KENAPA LAMA SEKALI! KUFIKIR KAU BENAR-BENAR DITERKAM OLEH SASAENG MU! AKU SUDAH MERASA SANGAT BERSALAH TADII!!! MIANHAEE” Baekhyun berlari memeluk Kyungsoo benar-benar takut “kau ini! Kenapa ke supermarket lama sekali! Kau membuat Baekhyun khawatir! Dia bilang kalau kau tidak pulang… saat tidur selamanya dia akan menyalakan AC dan lampu. KAU FIKIR INI ADIL UNTUKKUU!!!” Chanyeol kini mulai frustasi.
            Tadi sebelum Kyungsoo datang, Baekhyun mulai merengek pada Suho dan berjanji akan benar-benar menyalakan AC dan lampu selamanya tanpa melakukan gunting, batu, kertas pada Chanyeol yang membuat Chanyeol hampir pingsan mendengarnya.
            “gwenchana Baekhyun-ah. Gwenchanayo” Kyungsoo menepuk-nepuk punggung Baekhyun menenangkannya.
            Setelah konser, seluruh member EXO kembali dikerumini, sasaengnya bahkan lebih gila dari kemarin. Bahkan Baekhyun sudah sangat geram dengan tingkah sasaeng yang mencoba menerobos masuk. Kyungsoo kembali kehadiran tamu sasaeng, sasaeng yang kemarin. Kini menarik Kyungsoo hingga membuat tangannya benar-benar terkilir dan menjatuhkannya “KAI! BANTU AKU!” teriak Kyungsoo “Kai tidak mendengar karena dia berada paling depan. Kyungsoo fikir dia tidak apa-apa jika berada di barisan paling belakang, tapi ternyata dia salah!
            Jiyeon berlari mendorong yeoja itu “ya! HYUNA! Ennyahlah” Jiyeon membantu Kyungsoo berdiri dan memapahnya “KAU!” teriak Hyuna dan BUK! Pukulan keras di wajah Jiyeon yang membuatnya terhuyung tapi berusaha berdiri karena takut Kyungsoo akan terluka “pergilah Hyuna. Aku sedang tidak ingin marah padamu” Jiyeon tetap memapah Kyungsoo dan berjalan menjauhi Hyuna “bagaimana dengan ini?” BUK! Satu pukulan lagi yang membuat Jiyeon terjatuh “ku bilang pergilah!” Jiyeon tetap berdiri dan membantu Kyungsoo, Kyungsoo kaget benar-benar kaget “Ya! Apa yang kau lakukan?” Kyungsoo membentak Hyuna yang membuat Hyuna terhentak dan kini membuatnya menangis dan berlari pergi. Kyungsoo melirik Jiyeon yang menunduk menahan sakit “kau.. tidak apa-apa?” Tanya Kyungsoo, Jiyeon mengangguk pelan.
            Kyungsoo duduk disebelah Jiyeon. Karena memar, dan manager EXO melihat luka memar Jiyeon membuatnya kasihan pada Jiyeon dan mengantar Jiyeon pulang “siapa namamu?” Tanya Baekhyun “na… Park Jiyeon” jawab Jiyeon “kau benar-benar DAEBAK!” Kai tersenyum, Jiyeon salah tingkah “terimakasih karena telah melindungi uri Kyungsoo” kata Suho “Aniyeo…” Jiyeon tersenyum kecil mencoba menahan sakit “kau kurang sehat yah?” Tanya Sehun “ah? Ani…Ani…” Jiyeon mengelak.
            Sesampainya dirumah, Jiyeon keluar dari mobil “biar kuantar” Kyungsoo berjalan mengikuti Jiyeon “tunggu aku!” kata Kyungsoo pada managernya.
            Kyungsoo menyamai langkah Jiyeon “jangan melindungiku lagi” kata Kyungsoo tajam, Jiyeon berbalik kaget “apa.. maksudmu?” tanyanya “kau fikir aku apa? Namja yang lemah sehingga butuh bantuan yeoja untuk melindungiku? Seharusnya tadi saat kau dipukul… aku melindungimu! Bukannya kamu yang melindungiku! Tadi… kau bahkan tidak melawan saat dia memukulmu… itu karena ada aku! APA AKU TERLIHAT MENYEDIHKAN?” bentak Kyungsoo, Jiyeon masih terdiam “kau yeoja apa? Terlalu berani! Terlalu percaya diri bahwa kau bisa mengatasinya sendiri! Tapi kau bodoh!!!” Kyungsoo mengatur nafas yang mulai tak beraturan “menghabiskan waktumu untuk melindungiku! Aku bahkan terlihat sangat menyedihkan dan itu… karenamu!” Kyungsoo kini sudah berteriak “MULAI SEKARANG! JANGAN PERNAH MUNCUL DIHADAPANKU!!!!” bentak Kyungsoo “AKU TIDAK MEMBUTUHKAN YEOJA BODYGUARD!” bentaknya lagi, “KAU ADALAH BEBAN PALING MENYEDIHKAN UNTUKKU!” bentak Kyungsoo menggelegar
            Jiyeon menatap Kyungsoo tak percaya “aku ingin melindungimu… dari musuh-musuhku” kata Jiyeon lirih “kau fikir… siapa yang kubentak itu? Kau fikir siapa yang bisa-bisanya kubentak dan langsung faham? Kecuali mereka yang benar-benar tidak ku kenal, aku hanya memberikan mereka peringatan. Tapi Hyuna dan yeoja yang menerobos waktu itu! Yeoja yang memukulimu denga kamera itu! ITU ADALAH MUSUHKU!” air mata Jiyeon jatuh “mereka tidak bisa mengalahkanku. Maka dari itu ingin melukai orang yang kusayang!” Jiyeon menatap Kyungsoo lekat-lekat “aku melindungimu karena akulah yang salah! Aku tidak apa-apa dipukul sebanyak apapun. Tapi kau! Aku tidak ingin kau terluka karena mereka yang iri padaku!” Jiyeon menghapus air matanya “aku tulus ingin melindungimu, aku tulus ingin menjadi orang yang bisa menjadi fans setiamu. Tapi… Kau menganggapku bodyguard? Kau bahkan mengatakan aku bebanmu…” Jiyeon menunduk menyembunyikan tangisnya “aku memang beban… karena aku, kau jadi menyedihkan seperti ini  kan? Umma… dia juga mengatakan hal seperti itu padaku. Maka dari itu dia meninggalkanku” Jiyeon tersenyum simpul mencoba menyembunyikan kepedihannya “tenang saja. Aku tidak akan menganggumu lagi…” Jiyeon menatap Kyungsoo lama dan setelahnya pergi menjauh tanpa sekalipun berbalik.
            Kyungsoo diam terpaku. Benar-benar merasa bersalah akan hal itu. “mianhae” Kyungsoo berkata lirih.
            Hari-hari esoknya, dihabiskan Kyungsoo dengan kesedihan. Dia sangat menginginkan satu hari saja Jiyeon menemuinya. Tapi, seberapa keraspun Kyungsoo berbalik sana sini mencari Jiyeon dikerumunan fans, dia tak menemukan yeoja itu.
            “Hyung~” panggil Sehun, Kyungsoo menunduk tanpa mengucapkan apapun “kau yakin tidak ingin menemui Jiyeon? Hanya meminta maaf padanya… dan mengatakan bahwa kau kehilangannya” Sehun memegang pundak Kyungsoo “Hyung… manager memberikan kompensasi untukmu. Katanya… kau bisa saja dekat dengan yeoja itu” kata Sehun lagi “kau menyukainya kan? Kalau begitu katakanlah!” kata Sehun “bagaimana jika dia tidak ingin melihat wajahku?” Tanya Kyungsoo “bagaimana jika dia memaafkanmu? Dan ternyata masih menyayangimu?” Tanya Sehun “mwo? Masih menyayangiku? Dia hanya melindungiku! Dia tidak menyayangiku… kau berlebihan” Kyungsoo berbalik kesembarang arah “kau itu pura-pura tidak tahu atau apa sih hyung? Tentu saja dia menyukaimu! Walau dia bilang ingin melindungimu karena ini salahnya. Tapi jika aku menjadi dirinya. Aku akan masa bodoh. Toh… kau hanya idolku! Bukan pacarku, apalagi keluargaku” Sehun mengedikkan bahu. Kyungsoo terbelalak, ingat akan perkataan jiyeon waktu itu “mereka tidak bisa mengalahkanku. Maka dari itu ingin melukai orang yang kusayang!”. Kyungsoo terhentak dan berlari menuju rumah Jiyeon.
            Di dorm. Baekhyun, Suho, Kai, Chanyeol memeluk Sehun “KAU DAEBAK SEHUNNIE” ucap mereka bersamaan “Baby Sehun sudah besar sekarang” Kai menepuk-nepuk pundak Sehun membuat Sehun malu.
            Kyungsoo mengetuk keras pintu Jiyeon. Jiyeon membuka pintu terlihat acak-acakan “Jiyeon…” Kyungsoo kaget melihat keadaan Jiyeon yang menyedihkan “gwencahanayo?” Kyungsoo berjalan mendekat Jiyeon dan mendekapnya “jeongmal… mianhaeyo” kata Kyungsoo lirih “kyungsoo…” Jiyeon menunduk dan membalas pelukan Kyungsoo “bogoshippeo!” kata Kyungsoo lagi “kau… kenapa membuatku khawatir. Aku merasa sangat menyedihkan tanpamu” kata Kyungsoo “tapi ada aku juga sama saja kan?” Jiyeon berbalik kesembarang arah.
            “maafkan aku telah membuatmu terluka. Maafkan aku telah membuatmu seperti ini. MIANHAE” Kyungsoo mempererat pelukannya “ani.. animnida” kata Jiyeon “mulai dari sekarang. Tidak usah menjadi orang yang melindungiku lagi!” kata Kyungsoo, Jiyeon kaget dan menatap Kyungsoo bingung “cukup menjadi yeoja chinguku… aku yang akan melindungimu” senyum Kyungsoo mengembang “eo? Jeongmal? Kau bisa melindungiku?” Tanya Jiyeon tidak percaya “Ya! Kau fikir… tanpa dirimu aku bisa hidup seperti kemarin-kemarin? Aku bahkan belajar karate.” Kyungsoo tersenyum simpul “wuah…” Jiyeon bertepuk tangan “tapi… ini sungguh kau mencintaiku atau memberikanku fanservice?” Tanya Jiyeon mulai bingung “fanservice? Ini fanservice” Kyungsoo mencium pipi Jiyeon lembut dan kembali memeluknya “I don’t wanna lose you again” kata Kyungsoo “ne… sepertinya menyenangkan menjadi pacar dari exo” ledek Jiyeon “jadi kau menerimaku karena aku anggota Exo?” Tanya Kyungsoo galak, Jiyeon tertawa melihat tingkah Kyungsoo “Aish… bagaimana yah jika aku mengundurkan diri besok? Apakah yeoja didepanku ini juga akan mengundurkan diri menjadi yeoja chinguku?” Kyungsoo meledek Jiyeon “jika kau keluar, aku akan mematahkan seluruh tulang yang bisa kupatahkan!” Jiyeon memeluk Kyungsoo dari belakang dan menyandarkan dagunya dibahu Kyungsoo “chagiya! Aku masak enak hari ini. Aku sebenarnya ingin menghibur diriku yang sedang patah hati. Tapi… Karena orang yang membuatku patah hati malah membuatku kembali berbunga-bunga. Bagaimana kalau kita rayakan ini?” Jiyeon menarik Kyungsoo masuk dalam rumahnya dan menyidangkan makanan untuknya “makanan apa ini? Aish! Biarkan aku yang memasak untukmu! Masakanmu payah!” Kyungsoo berjalan menuju dapur “ini sudah enak… bagi kadar masakan orang yang patah hati” Jiyeon berjalan mengekori Kyungsoo “kemarin… bahkan dengan tololnya aku benar-benar menggoreng mi, bukan merebusnya. Aish.. Pabo” Jiyeon merutuki diri “jinja? Rasanya seperti apa?” Tanya Kyungsoo “rasanya seperti mi! tentu saja. Kau fikir saat menggoreng mi… rasanya akan berubah menjadi daging? Kau ini ada-ada saja” Jiyeon menggeleng-geleng prihatin, Kyungsoo memukul pelan kepala Jiyeon dengan sendok “ya! Tentu saja tidak berubah! Maksudku… rasanya enak atau seperti apa?” Kyungsoo mulai kesal “menurutmu? Tentu saja itu membuatk membuang mie nya dan tidak makan seharian” jawab Jiyeon “APA? Jadi kau baru makan setelah 1 hari tidak makan kemarin?” Kyungsoo kaget “hmm…” Jiyeon menjawab malas “ckckck.. pabo chorong” Kyungsoo yang kini menggeleng-geleng prihatin “YA! INI SEMUA KAN KARENAMU!” bentak Jiyeon “haha.. aku bercanda Chagi.. Sini… ayo…” Kyungsoo berjalan mendekat Jiyeon dan memeluknya lembut dan mencium keningnya “mianhae… kupastikan itu tangisan terakhirmu” jawab Kyungsoo “um…” Jiyeon mengangguk.
            “YA! YA! APA INI YANG GOSOONG!!!” Jiyeon melirik kearah kompor. Dan benar saja… daging yang digoreng Kyungsoo benar-benar gosong “apa boleh buat? Kita makan diluar saja” Kyungsoo menarik tangan Jiyeon dan mengajaknya keluar “kau ingin sepanjang jalan memegang tanganku?” Tanya Jiyeon “memang kenapa?” Tanya Kyungsoo bingung “kau ingin aku dikeroyoki fansmu?” Jiyeon menjawab kesal “kita kan jago karate” Kyungsoo tersenyum manis kearah Jiyeon yang membuat Jiyeon kembali terpanah.
            Dan inilah… awal dari kisah cinta mereka. Kyungsoo dan Jiyeon.

Sabtu, 28 September 2013

SARANG! Part1


Jiyeon POV

"Jebal umma... hari iniii saja... aku ingin pergi bersama Eunjung" rengekku pada umma, umma hanya menatapku dalam diam yang itu artinya tidak ada tawar menawar untuk ini "Jiyeon... kau lihatkan? pelanggan banyak sekali hari ini, umma tau ini hari libur.. tapi bisakah kau luangkan waktu liburmu sehari saja untuk menyenangkan hati umma?" umma menatapku lekat-lekat, aku pasrah... inilah ummaku, sangat susah untuk diajak kompromi, selalu ada kalimat yang benar-benar membuat kita merasa bersalah.

Aku memakai celemek, mengikat rambutku dan berdandan ala kadarnya "Annyeonghaseyo" salamku kepada pengunjung-pengunjung restoran pagi ini. Salah satunya adalah Taemin dan... omo. siapa dia? aishii... cakep sekali.

"Jiyeon-ah?" Taemin menyapaku, aku tersenyum kearahnya dan menghampirinya "Taemin-sshi" panggilku juga "apa yang kau lakukan disini?" tanyanya "Omo~ kau belum tahu? ini restoran ummaku, dia lagi kurang kerjaan menyekapku sebagai pegawainya" rutukku, Taemin mengangguk-angguk sambil terseyum "nugusseyo?" tanyaku sambil menunjuk namja disebelah taemin "dia.. Kai" kata Taemin, Kai hanya sekilas menatapku dan setelahnya sibuk memainkan handphonennya "aah.. tunggu sebentar Taemin-sshi, Kai Oppa" kataku dan berjalan menuju dapur.

"Nugu, eonni?" tanya Park Hyo Joon, adik Jiyeon "Taemin, dengan temannya" kataku, Hyo Joon hanya mengangguk dan kembali sibuk menerima pesanan "umma mana?" tanyaku sambil berbalik mencari umma "sedang ke toilet" kata Hyo Joon singkat. Tiba-tiba ide burukku bertebaran, segera aku membuka celemek dan berjalan ingin keluar menemui Eunjung, tapi saat aku baru saja melewati tempat duduk Taemin, umma memanggilku "Ya! Jiyeon! mau kemana kau?" umma berjalan mendekatiku, aku segera celingak celinguk mencari ide dan akhirnya duduk disebelah Taemin "Taemin, katanya kau akan debut yah?" tanyaku sambil berbalik menatap Taemin, umma mendekatiku "Ya! berhenti berpura-pura" umma memukuli pundakku aku hanya tersenyum kearah umma "umma... kali ini saja, ku mohooon..." kataku pada umma "umma juga memohon Jiyeon" kata umma, aku hanya menunduk sambil menghembuskan nafas berat "aku tidak akan pergi, sebentar saja, aku hanya ingin ngobrol dengan taemin" kataku, ummapun kembali berjalan menuju dapur "kau mau kemana?" tanya Taemin, aku hanya menggeleng pelan.

"taem, aku kedalam dulu yah. Maaf telah melibatkanmu, mianhae" aku menunduk meminta maaf pada Taemin dan Kai, Kai hanya menatapku datar. Hyo Joon terkekek melihat wajahku yang kusut "Ya! kau kurang ajar sekali dengan kakakmu" bentakku ingin memukulnya tapi umma memperhatikannku "aishiiii" geramku.

...
Aku berjalan tergesa-gesa menuju kelas, handphoneku sudah bergetar dari tadi tapi aku begitu terburu-buru untuk mengangkatnya, saat sampai dikelas aku menunduk meminta maaf pada dosen hari ini "Kau! Kau sudah berapa kali terlambat dalam mata kuliahku? kau fikir kau yang ditunggu untuk memulai mata kuliahku? PARK JIYEON! KELUAR! SEKARANG!" bentaknya, aku kembali menunduk dan segera berjalan keluar, saat kubuka handphoneku, ternyata telefon yang sedari tadi berdering adalah dari eunjung.

Aku berjalan menuju taman, diperjalanan handphoneku kembali berdering yang memunculkan nama Eunjung .
"Yeoboseyo?"
"Ya! kenapa tadi tidak mengangkat telefon ku?"
"aku mana sempat? tidak mengangkatnya saja sudah terlambat"
"pokoknyaa... setelah mata kuliah selesai kau harus tetap ditaman menungguku"
"walaupun hujan?"
"WALAUPUN HUJAN!"
"Aiishh.. tega sekali kau!"
"TUT"
Telefon terputus, aku hanya mendengus kesal melihat tingkah Eunjung.

...
Hari ini giliranku untuk menjaga restoran. Umma, appa, dan namdongsaengku sedang pergi acara pernikahan saudara umma dan akan kembali besok. Untung koki-kokinya juga tidak diajak menginap. Akhirnya, aku yang menjadi pelayan satu-satunya. Untung juga hari ini bukan hari libur yang itu artinya tidak akan seramai saat hari libur. Restoran kami adalah restoran tradisional yang masih berdekorasi kayu. Kau tahu film playfull kiss? itu adalah restoran umma yang dipinjam sebagai tempat syuting. Awalnya saat itu umma menolak, tapi mendengar harga sewa yang lumayan banyak akhirnya umma mengiyakan.

Tapi karena itu pula aku juga lumayan dekat dengan Jung So Min eunni... Kadang dia mentraktirku makan saat aku sedang mengambil barang di kamar lantai atasku. Tapi sekarang dia terlalu sibuk dengan drama barunya. Jadi kami lost contact.

Aku terduduk dikursi pelanggan. Masih terlalu pagi untuk membuka restoran sebenarnya. Tapi akhirnya aku membalik gantungan kata "closed" menjadi "open" dengan hembusan nafas berat. Aku menatap diluar jendela. Masih sangat sepi. Bahkan koki juga belum datang, tapi kalau pelanggannya sedikit tidak apa-apalah aku yang memasak.

Pintu dibuka saat aku beranjak dari tempat dudukku. Oh, Taemin dan oppa yang kulihat waktu itu "annyeong" aku memberi salam sambil menunduk. Taemin tersenyum dan ikut menunduk lalu duduk dimeja tempatnya kemarin "apakah hanya kau sendiri? kenapa sepi sekali?" tanya Taemin melihat keadaan restoran yang sepi "koki belum datang. umma, appa, dan dongsaengku juga sedang ada acara" jawabku "kalo begitu masakkan saja bibimbap. Kau tahu kan caranya?" tanya Taemin. Aku mengangguk "oppa?" tanyaku pada namja disebelahnya "coklat hangat" jawabnya singkat.

Taemin tertawa sambil menatapku "hahahaha.. Ayolah Jiyeon-sshi.. kau lebih tua setahun darinya... hahaha" Taemin masih memegangi perutnya "mwo?" aku membelalakkan mata, memperhatikan namja itu sekali lagi. Pakaiannya terlalu dewasa, kufikir dia lebih tua setahun dariku. Ckckckck... Akhirnya aku hanya tersenyum kik kuk dan masuk kedapur untuk memasak.

Malu sekali sebenarnya. Dari kemarin aku memanggilnya Oppa,Oppa.. Ternyata akulah yang harusnya dipanggil "NUNA" ugghh....

Aku memasak bibimbap sambil sesekali melirik kearah Taemin dan Oppa... eh maksudnya dongsaeng itu. Mereka juga sesekali melirik kearahku sambil ngobrol. Ahh, aku malu sekali jika mengingatnyaa.

Aku selesai memasak, dan memberikan makanannya pada Taemin dan Kai. Setelahnya aku berbalik menuju ditempat duduk lain. Dipertengahan jalan pintu dibuka sambil dibanting. Aku kaget dan berbalik, begitu pula dengan Taemin dan Kai. "YYYAAA!!!! JIYEOON-SSHII!!! KENAPA KAU TIDAK DATANG KEMARIIN!!! AKU SUDAH MENUNGGUMU DI TAMAN LAMA SEKALIII" Eunjung menghampiriku dengan tampang murka dan memukulku disegala arah dengan cepat. Aku hanya melindungi diri tidak bermaksud untuk menghalangi karena jika lengah sedikit bisa-bisa dia juga memukuli wajahku.

Taemin dan Kai masih kaget, tapi tidak berniat untuk membantu. Kai sudah berdiri ingin melerai tapi Taemin menghalanginya "sudah biasa. Yeoja itu memang bandel" kata Taemin. Kai mengedikkan bahu lalu kembali duduk.

"Kau kemana saja? Eo?" kata Eunjung melemah, aku terdiam benar-benar tidak menyangka bahwa pukulan-pukulan Eunjung bisa menyisahkan lebam. Badanku penuh lebam aku terduduk mencoba mengambil nafas "kau berusaha membunuhku dengan cara ini yah?" kataku sambil mengoles-oles lukaku. Ditangan ada 3 lebam. Aku merutuk diriku yang tadi siang tidak datang.

"Kau tahu? Kemarin aku dikeluarkan di kelas dosen galak karenamu! Makanya aku dongkol jadi menenangkan diri dulu dirumah dan akhirnya ketiduran" aku memelankan suaraku "aku ingin meminjam Taemin" kata Eunjung "hah?" aku mencoba mencerna kata-kata Eunjung "Taemin" panggil Eunjung, Taemin menatap Eunjung lalu megerti dan keluar bersama Eunjung tanpa mengatakan satu katapun.

Kai terdiam lalu kembali memakan makanannya. Aku akhirnya berjalan mendekatinya dan duduk didepannya "ku harap bibimbapnya enak" kataku, Kai menatapku sekilas tanpa berkata apapun "gwenchana?" tanyanya tanpa menatapku, kini sibuk mengaduk-aduk makanannya "ne" jawabku singkat "sepertinya lebammu cukup parah... kenapa tidak melawan? walaupun itu sahabatmu sendiri kan tetap saja" Kai akhirnya berbicara panjang lebar, aku tersenyum ramah "aniyeo, dia memang seperti itu. Mungkin lebamnya akan sembuh" kataku sambil mengelus lebamku pelan.

Sebenarnya ini pertama kali Eunjung melakukan seperti ini. Entah ada apa padanya, mungkin dia lagi stress dan meluapkannya padaku. Biasanya dia hanya memarahiku tapi ini adalah yang terparah menurutku.

Aku terdiam lama memikirkan apa yang salah pada Eunjung. Kai tiba-tiba mendekatiku dan duduk disebelahku. Dia menarik pelan tanganku dan memijat pelan lebamku "aku sedikit bisa menyembuhkan ini dengan pijitan. Kalau kau tidak keberanan ku pijat dan menahan sakit..." katanya. Aku terdiam... lalu akhirnya mengangguk kik kuk.

Tadi dia sedingin es, tapi sekarang dia mencair sampai menjalar padaku. Tangannya memijit tanganku lembut tapi lumayan membuatku sedikit merintih kesakitan. Sesekali aku menggigit bibir menahannya. Tapi.. ada rasa hangat sepersekain detik menjalar ditanganku. Seperti rasa geli dan hangat yang jadi satu.

Waktu berlalu kadang begitu cepat, kadang begitu lambat. Kadan berhenti, dan kadang berlari secepat roket. Rasa apa ini?

Entah berapa menit aku menatapnya seperti ini, sedekat ini, dan sejelas ini. Dia masih menunduk memperhatikan pijitannya. Dan aku masih sibuk menatap seberapa seriusnya orang ini. Kami duduk saling berhadapan dan sedekat ini. Kai mendongak, mendapatkan mataku tertuju pada matanya. Dia tersenyum sekilas lalu kembali memijitku "mungkin tanganmu sudah mendingan" katanya yang membuatku tersadar dan menarik tanganku.

"Besok... kau ada acara?" tanyanya, aku mencoba mengingat apa yang akan kulakukan "aku akan menjaga seperti hari ini sampai siang" jawabku "aku akan membantumu... dan setelah selesai temani aku ke suatu tempat" katanya, aku terdiam sejenak. Namja ini benar-benar tidak bisa ditebak. Aku habis akal terhadapnya.

Akhirnya aku megiyakan. Beberapa menit kemudian Eunjung dan Taemin datang sambil tersenyum misterius "Kai..." panggil Taemin, Kai berbalik "kau sudah selesai? ayo pulang" ajak Taemin lalu tersenyum padaku, aku balas tersenyum walau bingung maksud senyumannya. "Aku pulang dulu... ingat besok!" dia mengacak pelan rambutku membuatku kembali terdiam seperti patung. Dia... orang apa dia sebenarnya?

...

bersambung di Part 2 :) Ada apa dengan Kai? dan bagaimana cara Jiyeon untuk mensterilkan hatinya yang kini sedikit demi sedikit membuka hatinya kepada namja itu?

Jumat, 12 Juli 2013

Can I With You?


HARGAI KARYA PENULIS :) BACA BOLEH, COPY PASTE YANG GA BOLEH
JANGAN JADI SILENT RIDER YAAH :) KALO ADA SALAH BOLEH KOMENT, AKU GA MAKAN SABUN KOK :D

Title :
Can I With You?

Pemeran :
Park Jiyeon, Kim Jong In, Kim Hyuna Ah, Kim  Myungso
Apa maksud takdir mempertemukan kita? apa maksud takdir mengatakan kau adalah jodohku?... Tapi, sekarang kau tidak bersamaku. Ragamu disini, tapi hatimu entah kemana... Aku merindukanmu, tapi kau sama sekali tidak pernah melirikku. Aku, siapa aku?

...
 "Kai Oppa" panggil yeoja yang berlari kecil menuju Kai, Kai berbalik malas dan setelahnya tersenyum menatap yeoja yang kini menggelayut manja di pundaknya "oppa sudah makan?" tanya yeoja itu "ani. aku menunggumu. kenapa lama sekali?"tanya Kai manja "dosen menyebalkan oppa. Dia memberika sangat banyak tugas, ugh.." gerutu Yeoja itu "jinja? aishii.. pasti kamu capek sekali. ayo, kita makan. dimana?" tanya Kai "di apartemenku saja, uumm??" tawar yeoja itu, dan Kai mengiyakan.

Yeoja itu adalah yeoja chingu Kim Jong In a.k.a Kai. mereka sudah berpacaran sudah lebih daru 1 tahun. Namanya adalah Hyuna. Yeoja cute, manja, dan mandiri.

...
"MWOO??" Teriak Kai, kaget dengan apa yang barusan didengarnya
"Kau harus mengerti Jong In, saat ini kita sedang dalam masa-masa kritis. Satu-satunya cara adalah menikahimu dengan anak dari direktur perusahaan tuan Park" kata appa "appaa..." Kai masih tidak bisa berkata-kata "dia cantik, sabar, pintar, dan bahkan kau beruntung mendapatkannya" kata Appa lagi "tapi aku tidak mauu...Appa kan sudah tahu, aku mencinta Hyuna." Kai mencoba menahan amarahnya "tapi kau juga sudah tahu, Appamu ini bangkrut. Appa tidak pernah meminta tolong apapun padamu, jadi Appa mohon... kau menikahlah dengan anak direktur Park" Appa menggenggam tangan Kai. 

Kai serba salah, tapi setelah berfikir beberapa lama, dia akhirnya mengiyakan. Besok dia harus memberitahukan ini kepada Hyuna.

-Keesokan harinya-

"Yeobosseoyo oppaa... aiiih, wae? kangeen?"
"Ani... Hyunaa"
"Ne"
"Mianheyoo"
"Wae?"
"Kita Putus..."
"mwooo? igee mwoyaa?"
"aniyoo.. hanya saja, appa ingin aku menikah dengan yeoja lain. Mianhee, jujur... disini, hanya ada kamu"
"jinja?"
"Ne"
"oppaa.. tidak bisakah kau menolaknya?"
"aku sudah menolaknya lebih dari 1000 kali chagiyaa, tapi ini benar-benar tidak bisa ditolak chagiy.. bukan tentang yeojanya, tapi tentang appa..."
"appa? dia kenapa?"
"Mian.. aku tidak bisa mengatakannya"
"ani..."
"Chagiyaa.. mianhe"
"oppa, sudah dulu yah... sepertinya aku dipanggil umma"
"eo..."
"annyeong!"
"annyeong!"

Selepas menelfon Hyuna, Kai malah diam ditempatnya. Bahkan dia tidak pernah bertemu dengan yeoja itu. Tapi walaupun itu, Kai akan membenci yeoja itu dengan segenap jiwanya.

...
-HARI PERNIKAHAN-

"Jadi, kau adalah anak dari direktur park?" tanya Kai pada istrinya "Ne, kita belum berkenalan? Park Jiyeon ibnida. Kau bisa memanggilku jiyeon" kata jiy sambil tersenyum ramah "sudahlah, tidak usah sok ramah seperti itu..." Kai mendengus dan kembali tertuju kepada para tamu undangan, Jiyeon hanya mengangguk pelan tidak terlihat marah.

Kai dan Jiyeon sudah menikah satu jam yang lalu, berawal dari paksaan appa untuk latihan sebelum melakukan yang sebenarnya, dan berakhiran dengan tanpa ciuman.

Kai dan Jiyeon tidak pernah saling bertemu. Semua dekorasi ruangan dan segalanya diurus oleh abonim dan appa mereka masing-masing. Walaupun Kai sedikit terperangah dengan kecantikan Jiyeon, tapi itu tidak berlangsung lama, setelahnya dia hanya dapat mendengus 'palingan wajah polosnya itu hanya topeng, dia mungkin sebenarnya berhati jahat' batin Kai.

...
-Di Rumah-

Kai sedang menonton tv, Jiyeon sibuk memasak di dapur "ya! berisik sekalii" teriak Kai yang membuat Jiyeon tersentak hampir menumpahkan minyak panas. Tergopoh-gopoh Jiyeon berjalan menghampiri Kai "kau memanggilku?" tanya Jiyeon "Ya! ku tahu kau tidak betah disini denganku, akupun juga. Tapi bisakah kau tidak ribut? aku ingin menonton" bentak Kai "mianhe, aku hanya sedang memasak. itu mengusikmu yah? mianheee" Jiyeon menunduk yang membuat Kai geleng-geleng kepala tidak percaya bahwa dirinya menikahi yeoja macam ini.

Setelah Jiyeon selesai masak dan menyiapkannya, Jiyeon berjalan kearah Kai "Jong In, makanan sudah siap" kata Jiyeon, Kai berjalan gontai menuju meja makan "kau yang memasak semua ini?" tanya Kai sedikit takjub dengan menu hari ini "kau kan tadi melihatku memasak..." jawab Jiyeon pelan.

"Setelah makan, aku ingin berbicara sesuatu hal denganmu" kata Kai yang dibalas angguBkan Jiyeon. Dan setelahnya, makan mereka lakukan dalam diam.

-Ruang Nonton-

"Jiyeon, Kau menyukai pernikahan kita ini?"
"maksudmu?"
"Maksudku, apa saat ditawari bertunangan, kau langsun mau?"
"Boleh kujawab jujur?"
"Itu yang kuinginkan, katakanlah"
"Aku sudah mempunyai kekasih, dia menembakku sehari sebelum abonim mengatakan semua ini... Tapi, aku tahu... Abonim tidak akan memberikanku orang yang tidak tepat, kan? Lagi pula, abonim adalah satu-satunya orang yang kumiliki didunia ini. Aku tidak bisa menolak, kalau itu permintaan abonim"
"begitu?"
"Ne"
"Kalau begitu berhenti berpura-pura sok baik di depanku. Aku tidak ingin melirikmu"
"Ani, aku sedang tidak berpura-pura. Aku bukan aktris... jadi untuk apa berpura-pura? Suamiku sekarang, adalah suamiku selamanya. Jadi jika saat ini aku belum mencintaium, aku akan berusaha untuk mencintaimu"
"picik! Lupakaan.. aku tidak akan terpengaruh dengan kebaikanmu yang pura-pura itu."

Jiyeon hanya terdiam mencoba sabar menghadapi kelakuan Kai, dia tahu betul kalau Kai sudah mempunyai yeoja chingu, ini sangat berat untuknya.

...
Pagi ini, Jiyeon duduk termenung menunggu Kai selesai bersiap-siap menuju kantor, setelah pintu terbuka Jiyeon berdiri dan menyapa Kai "annyeonghaseyo, ayo makan" ajak Jiyeon dengan seulas senyuman, Kai hanya menatap sekilas Jiyeon dan berjalan melewatinya "jangan berpura-pura peduli, nanti aku makan diluar saja" jawab Kai ketus "kau boleh benci padaku, terserah... Tapi jangan biarkan perutmu kosong seperti itu, makanan diluar belum tentu sehat. Kalau yang dimasak dirumah kan sudah terjamin sehat" kata Jiyeon panjang lebar "kau ini, aku bilang aku bisa makan diluar. Arra?? sudahlah, belum tentu masakanmu juga sehat." Kai tetap berjalan dan memakai sepatunya "ku mohon makanlah, kau bisa membunuhku kalau makanan ini beracun. Aku hanya ingin memasakkannya untukmu, jangan seperti ini... aku tidak memaksamu untuk tidak membenciku" kata Jiyeon menunduk, Kai terdiam dan akhirnya pasrah kembali menuju ruang makan, Jiyeon tersenyum dan berjalan cepat mengambilkannya lauk.

"Kau tidak makan?" tanya Kai yang lebih tepatnya berupa bentakan "tidak, aku ingin melihat caramu makan" kata Jiyeon sambil bertopang dagu "cih..." Kai mendengus tapi tetap melanjutkan makannya "beritahukan aku tentang yeoja chingu mu" kata Jiyeon lagi sambil tersenyum "wae? kau ingin mengancamnya menjauh dariku?" Kai setengah membentak "apa aku terlihat orang seperti itu?" Jiyeon memanyunkan bibirnya merasa terusik dengan perkataan Kai. Kai mengangguk "ani, aku hanya ingin tahu seberapa hebatnya yeoja chingumu bisa sabar menghadapimu yang kejam seperti ini" kata Jiyeon kini menatap mata Kai lekat-lekat, Kai hanya tersenyum acuh "yang jelas, dia lebih baik darimu..." kata Kai "jinja? namanya siapa?" tanya Jiyeon lagi, Kai menghentikan makannya sejenak menatap bingung Jiyeon tapi kembali melanjutkan lagi makannya "Hyuna" jawab Kai "HYUNAA?" pekik Jiyeon, Kai menutup kupingnya "YA! kalau kau kaget tidak perlu selebay ituu, memang ada apa dengan nama Hyuna? apa seindah itu?" Kai membentak Jiyeon "Kim Hyuna Ah?" tanya Jiyeon hati-hati "kau mengenalnya?" tanya Kai penuh selidik "iya.." tangan Jiyeon bergetar dan dia mencoba menyembunyikannya dengan menaruhnya dibawah meja "di mana kalian pernah kenal?" tanya Jiyeon "ah lupakan.. aku hanya pernah mendengar namanya saja, ayo makan yang banyak." Jiyeon gelagapan, Kai mengendus ada yang aneh dari Jiyeon.

Jiyeon POV :

Kim Hyuna Ah, dia adalah sahabat lamaku yang merebut oppa myungsoo dariku, dan kini? katanya dia berpacaran dengan Kai? 

Menurut desas-desus yang beredar, Kim myungsoo dan Kim Hyun Ah sudah berpacaran lebih dari 2 tahun, dan aku tahu dari abonim kalo Kai juga sudah berpacaran dengan Hyuna sejak 1 tahun yang lalu. Omoo... kasihan suamiku telah diselingkuhi oleh dia.

Kai POV :

Sampai di kantorpun aku masih bingun dengan apa yang terjadi tadi, Jiyeon mengenal Kim Hyuna Ah, tapi kenapa dia seolah menyembunyikan sesuatu? ada apa? apakah Jiyeon adalah teman Hyuna? tapi kenapa Hyuna tidak pernah memperkenalkannya padaku? ck... padahal aku dan dia sudah lama berpacaran, yang aku kenal hanya sebagian temannya, keluarganya pun aku tidak kenal.

Author POV 

...

Malam ini, Jiyeon kembali menunggu Kai. Jiyeon hanya bertemu dengan Kai saat sarapan dan makan malam saja, makanya Jiyeon harus tetap menunggu Kai datang, sampai akhirnya Jiyeon tertidur di meja makan.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara pintu dibuka, Jiyen terbangun dan mendapati Kai tengah menatapnya "kau kenapa tidur disitu? apakah meja makan adalah tempat tidurmu?" Kai berjalan angkuh, "aku menunggumu Jong in, kau kenapa pulang larut sekali?" tanya Jiyeon mengekori Kai "ada meeting, siapa suruh menungguku? kau keluarlah, aku ingin mengganti baju" Kai mendorong pelan Jiyeon, Jiyeon mendengus "sudah 2 hari, tapi dia masih dingin seperti ini." Jiyeon berjalan gontai menuju meja makan, saat Kai membuka pintu, Jiyeon masih bergeming "kau sudah makan?" tanya Jiyeon sambil mengucek-ngucek matanya "sudah" jawab Kai singkat "ck, harusnya tadi aku menelfonmu supaya tidak menunggu seperti ini, ya sudahlah... yang penting kau sudah makan" kata Jiyeon dan setelahnya sibuk mengambil makanan untuk dirinya sendiri "kau menungguku? ck, aku sudah bilang berapa kali dari awal kita menikah... Aku tidak akan pernah melirikmu. Harusnya kau tahu diri" Kai menatap Jiyeon bengis, Jiyeon menunduk mencoba menahan tangis "amugotdo anii, setidaknya aku berusaha untuk menjadi istri yang baik. Walaupun dimatamu hanya Hyuna-ssi, tapi aku akan tetap memperlakukanmu sebagaimana suamiku, walau aku juga belum bisa menerima kau adalah bagian dari diriku saat ini. Tapi aku akan berusaha untuk menerimanya" jawab Jiyeon sambil menyungginggang seulas senyuman. Sekali lagi, Kai acuh tak acuh.

Sehabis makan, Jiyeon duduk diam di tempat tidur, di sampingnya Kai sudah terlelap. Mereka tidur satu ranjang, tapi jangan harap akan ada apa-apa, karena Kai sudah memberitahukannya bahwa tidak akan ada malam pertama, ataupun ciuman mesra, pelukan, dan semua perlakuan layaknya suami istri.

Jiyeon menunduk. Walau masih tampak sabar, hatinya kadang meronta 'tidak bisakah dia memperlakukanku layaknya seorang wanita? bahkan aku terlihat tampak seperti patung. mendengar apa yang dia ucapkan, tapi tidak boleh melawan semua yang dia katakan. Aku tahu dia dan aku masih sulit membuka pintu satu sama lain, tapi setidaknya... dia menghargaiku layaknya aku menghargainya' batin Jiyeon.

...

Pagi ini, Jiyeon sudah sibuk menyiapkan Kai sarapan, dan setelah Kai membuka pintu hendak menuju ke kantor, Jiyeon menghalangi jalannya "ayo makan bersama" jawab Jiyeon sambil mengembangkan seulas senyuman "tidak perlu, kau makan saja. Aku akan makan diluar" jawab Kai kini cepat-cepat memakai sepatunya "Jangan seperti ini terus Jong in, masa setiap pagi aku harus membujukmu makan? sudah 5 hari ini kau kubujuk teruus.. ayolah, kalau sudah siap-siap, kau makanlah saja. Jangan sepert ini terus" Jiyeon merengek "YA!! KALAU BUKAN KARENA APPA, AKU TIDAK AKAN MENIKAHIMU. JADI JANGAN TERLALU BERHARAP BANYAK" bentak Kai, kali ini Jiyeon betul-betul kaget mendengar bentakannya "apa aku terlihat semurahan itu?" Jiyeon mematung "Ne, tiap hari kau mencoba mengambil hatiku dengan menungguku makan malam, menyiapkanku sarapan. Kalau aku menolakmu, harusnya kau menjauh" Kai menatap tajam Jiyeon. Jiyeon terdiam "mungkin kemarin kau lelah, makanlah sesuap saja, atau dua suap. Setelahnya kau bisa kerja" kata Jiyeon, Kai mendengus tapi akhirnya menurutinya, makan 3 suap dan setelahnya pergi. Tapi, kai lupa minum air, akhirnya cepat-cepat Jiyeon membawakannya air dan berlari mengejar Kai "jong iin" teriak Jiyeon, Kai berbalik menatap bingung Jiyeon "wae?" tanya Kai "kau lupa minum" Jiyeon memberikannya pada Kai, tapi Kai menghempaskan gelasnya dan membuatnya pecah berhamburan.

Kai tidak melakukan apapun, malah beranjak pergi dan meninggalkan Jiyeon membereskan pecahan gelas kacanya "cih.. perempuan licik, sampai kapan dia berpura-pura baik seperti itu?" Kai menatap Jiyeon dengan tatapan menghunus.

Jiyeon masih membereskan serpihan kaca saat seorang anak menyenggolnya sampai membuatnya terjatuh dan membuat tangan kananya terkena serpihan beling yang di kumpulkannya, Jiyeon mengerang, untung Kai baru mau melajukan mobilnya saat menyaksikan tangan Jiyeon terkena beling.

Kai keluar dari mobil dan menghampiri Jiyeon "Gwenchana?" tanya Kai, Jiyeon yang masih mengerang kesakitan tidak bisa mengatakan apa-apa, malah saat melihat darah, Jiyeon pingsan.

...
-At Hospital-

Kai menunggu Jiyeon sadar, saat ini appa dan abonim mereka sedang tidak di korea, jadi percuma mengabari mereka. Ada tugas kantor yang sangat penting, jadi Kai tidak ingin menambah banyak fikiran mereka.

"ugh..." Jiyeon tersadar dari pingsannya. Tangan kanan Jiyeon di jahit karena beling merobek tangannya lumayang dalam, belum lagi serpihan-serpihan beling yang masuk ke tangannya, untuk pertama kalianya Kai khawatir dengan Jiyeon.

"kau sudah sadar?" Kai menghampiri Jiyeon "ini dimana? terlihat bukan seperti rumah" Jiyeon menatap sekeliling, "kau sedang ada di rumah sakit Jiyeon-ssi" kata Kai "mwo? ige mwoy.... aww" Jiyeon mengerang, dan saat melihat keadaan tangannya yang dibalut perban, Jiyeon tersadar bahwa tadi dirinya pingsan "ini hanya terkena beling, tapi kenapa sampai dirumah sakit?" Jiyeon masih menatap tangannya "seandainya saja hanya terkena beling, kenapa tanganmu harus dijahit?" tanya Kai "apa? jadi tanganku berdarah?" tanya Jiyeon, tapi akhirnya mengingat kali terakhir dia tersadar... dia melihat begitu banyak darah, Jiyeon memejamkan matanya dengan kuat, menghilangkan kenangan darah dalam memorinya "ya! kau kenapa?" Kai mengguncang-guncang bahu Jiyeon, Jiyeon membuka matanya mencoba mengatur nafasnya dan menahan tangisnya "kau kenapa?" tanya Kai lagi "aniyoo..." jawab Jiyeon dengan seulas senyumnya.

"Ya! aku sedang baik, jadi berbicaralah. Aku akan mendengarmu" Kai menatap Jiyeon, kini bukan dengan tatapan benci lagi "umma..." Jiyeon menunduk menahan tangisnya "saat itu, kami berjalan berdua... di taman yang indah, penuh dengan berbagai bunga. Umma suka bunga, sangat suka. Jadi kami ke taman itu.... tidak ada apa-apa. sampai kami pulang, umma dan aku menyebrang jalan. Entah apa yang kufikirkan saat itu, aku berlari melewati jalan, dan Umma mengejarku, saat aku hampir ditabrak oleh mobil yang berlaju kencang, umma menyelamatkanku, walau akhirnyaa... dia, dia yang tidak terselamatkan... banyak darah, banyaakk... umma dan aku penuh dengan darah. Sampai di larikan dirumah sakit, umma ternyata sudah tidak ada.. umma pergi meninggalkan aku dan abonim. Aku trauma melihat darah... aku tidak ingin mengingat darah yang mengalir disekujur tubuh umma, aku tidak ingin mengingat bahwa akulah yang membunuh umma..." Jiyeon terdiam, dia terguncang hebat, mencoba menahan tangisnya tapi tidak bisa menahannya, seketika Kai memeluknya "sudah tidak apa-apa, mianhe sudah membuka kembali lukamu. Jangan menangis, kau cantik saat tersenyum." Kata Kai sambil mengelus pelan rambut Jiyeon. Jiyeon membalas pelukan Kai dengan tangan kirinya "aku ingin merasakan rasanya jadi umma, memasak untuk suami, membersihkan rumah. melakukan seluruh apa yang dilakukan umma. dan, menjadi ummaku tidak semudah yang kubayangkan yah... harus ada proses sabar... dan mengalah." kata Jiyeon, Kai masih memeluk Jiyeon.

Kai POV 

Entah kenapa, aku merasa sangat jahat pada Jiyeon. Semua tuduhan yang kukatakan padanya dan semua perlakuan burukku padanya... Dia bahkan sama sekali tidak pernah menangis didepanku saat aku membentaknya, mencacinya, dan memarahinya. Sebaliknya, dia malah tetap tersenyum dan mengkhawatirkanku. Kufikir dia melakukan itu hanya karena dia disuruh oleh appa atau abonim, berpura-pura baik. Tapi ternyata, dia melakukannya bukan karena bersandiwara.

Pelukannya pun terasa hangat dan nyaman. Bahkan pelukan Hyuna tidak seperti ini...

Author POV

-Di Rumah-

"Jong in, kau mau makan apa?" tanya Jiyeon "makan apa saja" jawab Kai, lupa bahwa tangan Jiyeon masih diperban. Jiyeon membuka kulkas dan mengambil semua bahan-bahan makanan dengan tangan kirinya. Setelah itu mengambil alat dan menaruhnya di atas meja.

Setelah semuanya sudah terkumpul, Jiyeon bingung bagaimana caranya memasak dengan tangan yang diperban. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk kekamar mengatakan bahwa dia tidak bisa memasak pada Kai

"Kai..." panggil Jiyeon "ne?" Kai berbalik "bisakah hari ini kau membeli makanan diluar?" tanya Jiyeon hati-hati "wae?" tanya Kai "aku tidak bisa memasak dengan hanya memakai tangan kiri" kata Jiyeon sambil menunduk menatap nalar tangannya, Kai berdiri "astaga, aku lupa... iya, aku akan pergi membelikan makanan. Kau mau makan apa?" tanya Kai sambil mendekati Jiyeon "kau suka makan apa?" tanya Jiyeon "makaaaann...bibimbap" jawab Kai "yasudah, kita makan itu saja" jawab Jiyeon antusias "kau suka makan apa?" tanya Kai lagi "apa yang suamiku suka, itu juga yang aku suka" jawab Jiyeon sambil tersenyum kearah Kai "kau ini... yasudah, aku pergi dulu" Kai mengelus pelan rambut Jiyeon dan mencium keningnya. Jiyeon terdiam mendapatkan ciuman dari Kai.

Kepergian Kai, Jiyeon hanya diam di tempat tidur, duduk merenung menatap tangannya "seandainya tanganku sudah sembuh, aku bisa memasakkan makanan buat jong in." Jiyeon menunduk frustasi, tiba-tiba pintu kamar terbuka, ternyata Kai "ige mwoya?" Kai menghampiri Jiyeon "eo? aniyoo, kenapa? ada yang kau lupa?" tanya Jiyeon "dompet" jawab Kai singkat "kau kenapa?" tanya Kai lagi "aniyoo..." jawab Jiyeon, seketika Kai memeluk Jiyeon "tidak usah difikirkan tanganmu... nanti juga akan sembuh" Kai menenangkan "aniyoo.. kali ini, kali pertama kau mau dimasakkan olehku. tapi aku, malah memintamu membeli masakan di luar. Padahal aku ingin sekali melihatmu makan dengan masakanku" jawab Jiyeon dengan nada sedih "gwenchanaa.. aku janji, akan memakan masakanmu seterusnya sampai selama-lamanya..." jawab Kai "jinja?" Jiyeon menatap Kai dengan dagunya diatas dada Kai "eo..." Kai mengangguk senang, Jiyeon tersenyum sumringah, seketika Kai mencium bibir Jiyeon dan keningnya "aku pergi, tunggu aku" jawab Kai, Jiyeon mengangguk gugup.

Kai POV

Omoo... aku menciumnya, ige mwoya? apa aku sudah mulai jatuh cinta padanya? padahal ini hanya ciuman biasa, kenapa aku merasakan sesenang ini? bahkan aku tidak pernah sesenang ini sebelumnya. Kurasakan Jiyeon sudah benar-benar menjadi istriku. Dulu, aku mengatakan bahwa tidak akan ada ciuman, pelukan.. tapi, malah aku yang memeluknya dan menciumnya. Omoo... aishii..

Jiyeon POV 

Mwo? dia menciumku? benarkah ini? apa dia sudah mulai mencintaiku? ummaa... anakmu benar-benar punya suamii. Dia menganggapku sebagai wanita ummaa!!! 

Author POV

Kai berjalan masuk menuju restaurant. Dengan langkah mantap, dia memasukinya... Tapi saat beberapa langkah memasuki pintu restaurant, terlihat Hyuna dan namja yang tidak dikenalnya saling bermesraan dengan dikelilingi oleh teman-teman yang tidak pernah dikenalkan oleh Kai sebelumnya

"Selamat hari 2 tahun 5 Bulan Anniversary Hyunaa.. Myungsoo" Teriak salah satu temannya yang membuat Hyuna semakin tambah merona, Myungsoo, namja yang berada di dekat Hyuna malah memeluk mesra Hyuna. Kai menatap semua itu dalam dia. Saat Hyuna menatap ke sembarang arah, dan saat itu... tatapannya terkunci akan Kai. Hyuna terlonjak kaget dan berlari menemui Kai "Oppaa" Panggil Hyuna, Kai sudah beranjak dan ingin memasuki mobilnya saat Hyuna mencegatnya "oppaa..." teriak Hyuna, Kai berhenti, tapi enggan menatap Hyuna "oppa mendengarnya?" tanya Hyuna hati-hati "menurutmu? apa aku orang tuli?" tanya Kai bengis "mianhhee.." jawab Hyuna walau tanpa ada raut penyesalan "satu tahun hubungan kita itu adalah kebohongan? bisa-bisanya kau melakukan itu padaku hyunaa" Kai mencoba menahan amarahnya "mwo? lagian oppa sudah mempunyai istri. Kenapa membahas yang kemarin?" Hyuna menatap Kai dengan bingung "pantas saja saat aku memutuskanmu, kau tidak terlihat sedih" Kai menatap tajam Hyuna dan setelahnya memasuki mobilnya dan beranjak pulang.

...

Sesampainya dirumah, Kai berjalan gontai dan memasuki kamar, Jiyeon sudah terlelap. Kai berbaring di perut Jiyeon, Jiyeon terbangun "jong in?" Jiyeon memastikan bahwa itu adalah Jong in "kau tahu kalau Hyuna berselingkuh?" tanya Kai akhirnya "mianhee" jawab Jiyeon pelan "tapi kenapa kau tidak mengatakannya padaku?" tanya Kai "saat itu kau masih membenciku, apapun yang kukatakan pasti tetap akan kau anggap bohong" jawab Jiyeon sambil mengelus rambut Kai "apa kau bertemu dengan oppa myungsoo dan hyuna?" tanya Jiyeon "kau mengetahui nama namja itu?" Kai menatap Jiyeon penuh selidik "tentu saja, aku yang menyukainya pertama. Tapi, Hyuna mengambilnya dari aku, seperti mengambil permen dari anak kecil. Begitu mudah dan menyedihkan" kata Jiyeon sambil tersenyum menatap Kai "wae? kau masih belum bisa melupakannya?" tanya Jiyeon, Kai menggeleng, kini bersandar di bahu jiyeon "aniyoo.. aku hanya berasa ditipu. 1 tahun bersamanya, aku bahkan tidak mengendus sesuatu yang aneh" Kai menggeleng tidak percaya akan dirinya "itu karena oppa sedang kuliah di LA selama satu tahun." jawab Jiyeon, Kai mengangguk "mana makanannya?" tanya Jiyeon "astaga.. aku lupa membeli, Kai menepuk jidatnya "ckck.. jadi? apa kau ingin belajar memasak?" tanya Jiyeon "bolehkan?" tanya Kai "bagaimana kalau kau menjadi tangan kananku?" tawar Jiyeon "tanganmu yang di perban itu? aku yang menggantikannya?" tanya Kai lagi, Jiyeon mengangguk "Baiklaah" jawab Kai dan menarik tangan kiri Jiyeon menuju dapur.

Kai memeluk Jiyeon dari belakang seolah-olah mereka adalah satu raga. Kepalanya disandarkan di bahu jiyeon, dan tangan kirinya dia lingkarkan di pinggang Jiyeon, dengan itu... dia menjadi tangan kanan Jiyeon.

Setelah hampir sejam memasak, masakan mereka akhirnya jadi. Jiyeon menatap masakan mereka berdua dengan senyum bahagia.

Kai mulai memakan, Jiyeon bersusah payah mengambil sendok dari piringnya, Kai yang melihat tingkah jiyeon seketika tertawa "hahaha.. hentikan, sampai besokpun kau tidak bisa mengambil sendok itu" Kai mengambil sendoknya dari atas piring dan mendekatkan kursinya ke kursi Jiyeon "apa boleh buat. Sudah terlanjur jadi tangan kananmu, bagaimana kalau aku menyuapimu?" tanya Kai, Jiyeon mengangguk cepat "Ya! jangan mengangguk sekencang itu lehermu bisa copot" Kai mengacak rambut Jiyeon yang membuat Jiyeon turut mengacak rambutnya dengan tangan kanannya.

...
Hari ini, Jiyeon dan Kai honeymoon pertama ke pulai Jeju, di pesawat, Kai tak hentinya memegangi tangan Jiyeon dan bersandar di bahunya "chagiyaa" panggil Kai "um.." gumam Jiyeon "maaf waktu itu aku sangat kasar padamu" kata Kai "aniyoo... Arrasseo... Gwenchana" jawab Jiyeon. Kai memeluk Jiyeon dengan sayang "bagaimana jika disana kita berjalan-jalan dipantai?" tawar Jiyeon "boleh..." jawab Kai masih memeluknya, "kalau berbaring-baring di taman?" tanya Jiyeon lagi "umm.. boleeh" jawab Kai lagi "bagaimana kali kitaa.. ummm" belum berhenti Jiyeon bicara, Kai sudah menciumnya dengan lembut "diamlaah, kau  membuatku tidak bisa tidur" kata Kai lagi, Jiyeon mengangguk dan mengelus pelan kepala Kai.

...
Kadang kala, ada cinta yang dipaksa... Ada cinta yang datang sendiri tanpa dipaksa. Jiyeon dan Jong In. Adalah bukti dari cinta memang harus mengalami proses sakit... itu adalah proses kedewasaan. Cinta sebenarnya tidak terlalu rumit jika dilihat dari satu sisi. Lihatlah dari sisi hatimu :)

author : ydf^^